Ingat Halal, Ingat LPPOM MUI

Uncategorized

Galz, apa sih yang terbayang kalau dengar atau lihat kata ‘LPPOM MUI’? Hm… jangan-jangan nama itu masih asing di telinga dan penglihatan kita. Apalagi bawa-bawa MUI. Duh, kayaknya berat gitu, kan.

But, wait! Jangan dulu merasa asing. Pernah lihat logo ini?

LPPOM_MUI (02)

Nah… ingat, kan?

Ternyata, selama ini kita suka nggak ngeuh kalau logo halal di makanan yang kita makan atau di kosmetik yang kita pakai itu datangnya dari Lembaga Pengkaji Pangan, Obat-Obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI. “Dapur” sertifikasi halal MUI ini telah berkhidmat untuk umat sejak 29 tahun lalu.

Rabu, 18 September 2018, aku dan teman-teman dari Blogger Halal berkunjung ke Global Halal Centre di Bogor. Gedung ini adalah pusat dari semua proses sertifikasi halal di Indonesia. Kami diterima oleh Direktur Divisi Edukasi dan Sosialisasi Halal, Ibu Lia Amalia yang didampingi Ibu Nadia, dan kemudian bergabung Direktur LPPOM MUI DKI Jakarta yang juga Wakil Direktur LPPOM MUI Pusat, Ibu Oshminah.

Di sini, kamu dijelaskan banyak hal tentang halal, khususnya tentang proses pengurusan sertifikasi halal yang krusial banget itu dari A sampai Z.

 

Cara Mudah Urus Sertifikasi Halal

Kamu punya bisnis kulineran, Galz? Konon, menurut Undang-Undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, dalam waktu lima tahun setelah undang-undang tersebut ditetapkan, semua produk kuliner wajib halal, atau wajib mencantumkan keterangan non halal. Lima tahun sejak undang-undang itu ditetapkan artinya tahun depan! Iya, 2019!

Terus, yang kepikir adalah ribetnya mengurus ini-itu dan panjangnya waktu sampai sertifikasi itu keluar. Nah, ini ada tabel tentang pengurusannya.

 

Yang kuning itu adalah hal yang harus dilakukan sama perusahaan. Eh, perusahaan? Berarti, bisnis kita nggak termasuk, dong! Kan cuma bisnis seblak online. Whew, jangan bilang “cuma” dulu. Mana tahu dua tahun lagi seblaknya merambah pasar internasional, kan? Simpelnya, bukan buat perusahaan saja, tapi juga buat UMKM rumahan kayak kita. Bukan buat restoran besar saja, tapi juga buat kafe sosbak kita.

Aku jelasin sedikit ya, yang harus kita lakukan itu adalah:

1. Persiapan Sistem Jaminan Halal

Ada sebelas kriteria yang harus dipenuhi oleh setiap pemilik usaha, dan itu sudah ada panduannya dari LPPOM MUI. Kita-kita tinggal mengikuti saja dan menyusun datanya. Nantinya, Persiapan Sistem Jaminan Halal ini akan dinilai. Untuk bisa dapat sertifikasi halal, minimal nilainya B.

2. Pendaftaran dan Penyerahan Dokumen Kelengkapan

Kalau kita nggak mau repot, proses ini bisa kita lakukan online. Yups, online via Cerol-SS23000. Daftarnya bisa lewat aplikasi HalalMUI yang bisa diunduh di Playstore, dan dilanjutkan dengan mendaftarkan dokumen di http://e-lppommui.org.

LPPOM MUI (07)

LPPOM MUI (08)

Akun kita dijamin kerahasiaannya. Jadi, nggak ada tuh ceritanya teman kita ngintip-ngintip soal sertifikasi ini, selagi kita nggak share password ke orang lain. Kita juga bisa cek proses sertifikasi untuk produk kita sudah sampai mana. Jadi, kakalu ada syarat yang kurang dan memperlambat prosesnya, kita bisa segera melengkapi.

3. Pembiayaan

Nah, kalau semua sudah lengkap, kita tinggal membayar biayanya saja. Tenang, biaya antara perusahan besar dan perusahaan insyaallah besar seperti yang kita jalani tentu berbeda. Tentu, kita nggak akan dibebani biaya sebesar perusahaan besar. Malah, ada yang gratis juga, seperti yang dilakukan Bazis Jakarta dengan Dinas Perindustrian dan Energi (DPE) DKI Jakarta, yang membiayai sertifikasi halal 300 UMKM di Jakarta Utara.

Kalau semua itu sudah kita lakukan, proses selanjutnya adalah tugas LPPOM MUI.

 

Kepo, Perjalanan Produk Mendapat Sertifikat Halal

Setelah kita menyerahkan semua persyaratan kepada LPPOM, waktunya LPPOM yang bekerja demi terwujudnya sertifikat halal bagi usaha kita. Pekerjaan mereka ini ternyata nggak mudah, karena berurusan sama ingredients suatu produk, which is, kalau ada unsur haram sedikit saja itu bisa menghalangi terkabulnya doa kita. Horor, kan.

Proses pertama yang harus dilakukan setelah semua dokumen kita yang sudah lengkap sampai di meja mereka adalah proses audit. Proses ini dilakukan oleh dua orang auditor. Auditor inilah yang akan memeriksa segala hal terkait produk kita. Misalnya, dari sistem jaminan halal, harus bisa dipastikan kalau tidak ada unsur non-halal yang masuk ke perusahaan.

Di kunjungan ini, kami sempat ngobrol dengan Ulwan, seorang Analis Sampel Produk di LPPOM, atau bahasa simpelnya, orang yang bertanggungjawab menguji sampel produk di laboratorium, dengan proses kimia. Menurutnya, nggak semua produk harus diuji di laboratorium.

Yang harus banget diuji di laboratorium adalah produk-produk seperti daging dan segala turunannya, seasoning, dan farmasi. Termasuk juga air minum dalam kemasan. Air? Yups! Bentuknya memang air, tapi air minum dalam kemasan beda sama air minum kita di rumah. Air minum dalam kemasan harus dijernihkan.

Nah, untuk menjernihkan itu diperlukan karbon aktif. Kalau karbon aktif itu animal base, maka ada titik kritis halal di situ. Dan, tentunya kudu dilakukan penelitian mendalam, hewan apakah yang digunakan. Babi, buat apapun haram. Jangankan buat konsumsi, buat sepatu saja haram.

LPPOM MUI (08)

Dalam menganalisa ini, analis nggak dikasih tahu merk produknya. Pokoknya kalau dikasih cokelat, ya cokelat saja tanpa label apapun. Kalau dikasih sosis ya sosis saja. Hal itu sengaja dilakukan untuk menjamin independensi mereka. Coba bayangkan, misalnya mereka dapat sampel produk dari makanan yang mereka suka, terus setelah diteliti ternyata ada unsur haramnya. Baper, kan?

Keberadaan para scientist ini, dan juga ketatnya penetapan status halal, menjadikan LPPOM MUI sebagai role model lembaga sertifikasi halal di dunia. Selain itu, LPPOM MUI juga sering bekerjasama dan audit bareng BPOM. LPPOM MUI fokus ke halalnya, BPOM fokus ke thayyib-nya.

Setiap hari Jum’at, para auditor berkumpul untuk melaporkan hasil auditnya. Tapi, tugas mereka cuma melaporkan. Keputusan halal-haram bukan di tangan mereka. Kepala auditorlah yang nanti akan membawa hasil audit itu ke Komisi Fatwa MUI, dan Komisi Fatwa yang akan memutuskan statusnya.

LPPOM MUI (08)

FYI, di dalam Komisi Fatwa, ada sekitar 63 perwakilan ormas Islam se-Indonesia. Dalam sidangnya, kalau ada satu ormas saja yang nggak sepakat tentang kehalalan suatu produk, maka produk itu nggak bisa dapat sertifikat halal. Fatwa itu harus disepakati semua yang hadir, Galz.

Tentunya bukan proses yang mudah menyamakan persepsi dari 63 ormas. Tapi, kalau semuanya dilakukan karena Allah, karena takut sama Allah, dan untuk menjaga umat, semua lelah akan jadi lillah.

Prosedur ini, kalau dokumen dari kitanya lengkap, biasanya memakan waktu 60 hari kerja. Nggak apa-apa lah, ya. Yang penting kan, kita bisa kasih jaminan ke customer kalau apa yang kita sajikan buat mereka itu halal. Sekalian buat warning ke kita juga. Misalkan ternyata ada produk yang kita pakai sebagai bahan berbahan baku non halal, kita bisa segera cari gantinya dengan yang halal.

Waktu masih kuliah, aku punya teman mualaf. Dia keturunan Tionghoa dan belum berhijab. Hobinya wisata kuliner, khusus restoran di mall. Setiap mau wisata kuliner, dia ajak aku. Alasannya: muka lokal dan pakai jilbab.

Keberadaan aku fungsinya supaya pegawai restoran kasih tahu kalau misalkan di restorannya ada produk non halal. Aku juga bisa dengan santainya tanya sertifikat halal. Beberapa restoran ada yang menaruh sertifikat halalnya di depan restoran, dan itu sangat memudahkan.

Biasanya, kalau di restoran itu menyediakan makanan halal dan non halal, kami langsung melipir cari restoran lain. Urusan halal bukan sebatas bahan makanannya, tapi juga alat masak yang digunakan.

Kalau misalkan alat masak yang dipakai buat mengolah pesanan aku dan dia itu baru selesai mengolah babi, sudah pasti makanan yang kami pesan akan terkontaminasi babi. Belum lagi piring yang dipakai. Mana kita tahu piring itu sebelumnya dipakai orang untuk makan apa.

Oh ya, untuk penggunaan alkohol, Ibu Lia Amalia menjelaskan kalau alkohol itu terdiri dari dua macam: turunan khamr ,dan sintetis yang dibuat di lab. Yang turunan khamr jelas keharamannya. Tapi, yang hasil buatan di lab boleh digunakan.

 

Pentingnya Halal Buat Kita

Seberapa pentingnya halal buat kita, tentu jawabannya cuma tiga kata: ya penting banget! Doa-doa kita bisa terhalang sebab apa yang kita konsumsi mengandung unsur haram. Unsurnya saja nggak boleh, apalagi kalau benda haramnya yang kita makan.

Hai sekalian manusia, makanlah dari apa yang baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu (QS. Al-Baqarah: 168)

So, kalau lagi belanja makanan, jangan lupa cek label halalnya. Kadang, ada yang posisinya di depan dan gampang untuk dilihat. Tapi, ada juga yang tersembunyi dan harus kita cari-cari dulu. Kita juga bisa cari tahu tentang kehalalan suatu produk lewat aplikasi Halal MUI.

Cara carinya juga mudah banget.

Buka aplikasinya.

LPPOM_MUI (03)

Klik ‘Pencarian’. Nanti akan muncul tampilan begini.

LPPOM_MUI (04)

Isi nama merk yang mau kita cari. Aku tulis ‘Aice’, es krim favorit aku karena harganya ramah kantong. Jangan lupa pilih kategorinya juga, apakah kita cari berdasarkan merk, nama perusahaan, atau nomor sertifikasi halal.

LPPOM_MUI (05)

Klik cari, dan tada!

LPPOM_MUI (06)

 

Ikut Acara Ini, Yuk!

Galz, yuk kita lebih dekat sama LPPOM MUI. Mereka punya banyak acara yang bisa kita ikuti supaya lebih mengenal LPPOM MUI dan lebih peduli dengan kehalalan suatu produk, khususnya yang kita konsumsi.

27—30 September ini, akan ada Halal Fair di Masjid Cut Meutia. Acaranya berlangsung dari pagi sampai malam. Ada lomba foto, pameran, dan dimeriahkan juga oleh seleb-seleb peduli halal, seperti Ria Ricis.

Di akhir Oktober akan diadakan jalan sehat di Car Free Day, demi menyosialisasikan Halal Is My Life. Yang seru, nanti peserta akan memakai celemek dengan jargon “Halal Is My Life”. Di akhir Oktober ini juga akan ada pertemua lembaga-lembaga sertifikasi halal dari seluruh dunia di Bogor.

Nah, 1—3 November, akan ada Indonesian Halal Expo (INDHEX) di gedung SMESCO, Jakarta.  Cekidot bocoran agendanya!

LPPOM MUI (09)

Kamis, 1 November 2018:

1. Halal Award untuk provinsi dan perusahaan yang concern dengan produk halal.

2. Seminar Wajib Halal 2019 tentang persiapan untuk impplementasinya.

3. Talkshow “Ayo Nge-Vlog Halal sekaligus Launching Lomba Vlog. Wah wah, vlogger harus ikut, nih!

Jum’at, 2 November 2018

1. Olimpiade Halal dengan 1000 peserta yang akan dibuka oleh Bapak Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

2. International Seminar & Developing Animal Protein, yang akan membahas tentang gelatin. Sampai saat ini, gelatin masih banyak yang impor dan berbahan animal base. So, titik kritis kehalalannya harus diwaspadai.

3. Cooking Halal Competition. Lomba masak nih, Galz. Yang seru, bahannya harus menggunakan bahan pangan lokal, seperti singkong atau ubi. Yuk, pada ikutan.

4. Meet & Greet Chef, temanya “Alternatif Bahan Halal dalam Masakan”. Sebelumnya, LPPOM MUI sudah pernah menggelar ToT Chef Halal Indonesia. Salah satu yang datang adalah Sisca Suwitomo yang sering kita lihat wajahnya di iklan. Para chef mengeluhkan kalau dalam masakan harus ada angciu, anggur, atau rhum. Tentunya, harus dicari bahan alternatif untuk menggantinya.

Sabtu, 3 November 2018

Ini harinya anak-anak dan keluarga, karena pada hari ini ada berbagai acara untuk anak-anak, salah satunya adalah lomba mewarnai. Lomba ini dimaksudkan supaya anak-anak mengenal halal sejak dini.

Jangan lupa pasang reminder di HP-mu ya, Galz! Kita ramaikan acara-acara LPPOM MUI. Kalau bukan kita yang peduli sama kehalalan apa yang kita konsumsi dan kita gunakan, siapa lagi? Yuk ah, sudah waktunya kita memasyarakatkan halal.

Halal Is My Life!

LPPOM MUI (10)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *